Kamis, 29 Januari 2015

Kenangan Termanis




Karya

Astri Noviana


Pemandangan indah, kapas – kapas berwarna jingga, dan terdengar suara gemuruh air di bendungan Waruturi membuatku tenang dikala hati ini sakit. Sore ini aku akan beranjak ke bendungan. Hati ini terasa sakit dikala aku akan meninggalkan tempat ini yang merupakan tempat kelahiranku. Aku dan keluargaku akan pindah ke daerah lain. Aku sedih,di kala harus meninggalkan teman – temanku disini. Tinggal seminggu lagi aku beranjak dari sini.
Tepat pukul 16.00 WIB , ku kayuh pedal sepeda dengan pelan namun pasti. Ku lalui jalan yang setiap hari ku lewati. Akhirnya sampailah aku di sebuah ayunan yang tak jauh dari bendungan. Aku pun duduk, melihat air bendungan yang terus mengalir. Memandangi sudut – sudut bendungan, dan taman – taman cantik yang akan ku tinggalkan. Dalam hati ini, aku pun menangis . Bersama teman – teman aku berbagi canda tawa dan duka disini.

“Kring..kring..!!”Tiba – tiba suara handphoneku berdering.
“Hallo,ada apa? Tanya ku pada Riska ,temanku.
“Kamu dimana? Aku, Rendi dan Risma ingin bertemu denganmu.
Aku pun tertegun sejenak. Lalu aku menyuruh mereka datang kesini.
            Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya mereka datang dengan membawa arum manis kesukaanku. Akhirnya kami bercengkrama bersama sambil menikmati arum manis itu. Teman-temanku tak tahu kalau aku akan meninggalkan mereka dan pindah ikut orang tua. Aku tak berani mengatakan ini semua.
“kamu kenapa Din?” Tanya Rendi yang mengejutkanku.
Aku kaget. Aku tak menjawab. Hanya ku balas dengan senyuman. Mereka pun bingung melihatku yang seperti ini. Tepat pukul 18.00 WIB kami pun pulang ke rumah masing-masing.
Sesampai di rumah, aku pun langsung masuk ke kamar. Menutup pintu rapat- rapat. Aku tak ingin pindah dari sini. Banyak kenangan-kenangan masa lalu dan sekarang. Sejak berumur 3 tahun, ku selalu bermain di Waruturi. Menemukan sahabat - sahabat   yang saa tini selalu menemaniku.
“Din, cepetan makan malam!” teriak ibuku dari bawah.
Aku pun langsung beranjak dan langsung makan bersama kedua orangtuaku.
Ku ambil setengah centong nasi dan beberapa lauk pauk, karena aku tak begitu berselera makan.
“Ayah, kenapa kita harus pindah dari sini ?”  tanyaku sambil menghentikan makanku sejenak.
Ayah menjawab dengan tegas “kita harus pindah dan ayah harus pidah tempat kerja.”
Aku tak bisa menjawab apa - apa . Setelah makan malam, aku pun beranjak merapikan jadwal buat besok. Setelah itu aku memejamkan kedua mata ini.
******
Mentari telah bersinar,memunculkan sinar – sinar indah yang membuatku membuka mata.
Setelah bersiap aku pun berangkat menuju ke sekolahan.Ya,tempatku menimba ilmu.Aku pun disambut oleh kawan - kawanku yang masih bertanya – Tanya.Bel pun berdering.Aku pun duduk dibangku seperti biasa.Aku mengikuti pelajaran.Setelah jam istirahat berbunyi,akhirnya aku bertesrus terang kepada kawan – kawanku.
“Teman – teman,maafkan aku selama  ini jika aku pernah melakukan kesalahan.”kataku sambil meneteskan air mata.
Kawan – kawanku kebingungan.Akhirnya salah satu dari mereka memelukku.Dan berkata “ Kamu kenapa?”
“Aku akan pindah dari sini.”Sahutku.
“Kenapa kamu pindah ,Din?’’ Sahut Rendi.
“Kedua orang tuaku pindah ke Jakarta.” Jawabku.
Mereka terdiam dikala mendengar perkataanku tadi.Akhirnya mereka bias terima dengan keputusanku untuk pindah yang kurang 5 hari lagi.
Semua kenang – kenagna indah pernah terjadi di sekolahan ini.Mulai dari keterlambatanku masuk sekolah,dihukum kare tidak mengerjakan pr,terlalu banyak kenagan indahku bersama teman- temanku terutama teman yang sangat dekat denganku Risama dan Rendi.
“Din,mukamu jangan kusut napa?”ucap Risma yang duduk disampingku.Aku hanya dapat tersenyum terpaksa menatap Risma yang sekarang tengah memajang muka sedihnya.Perlahan air mata Risma pun menetes.
“Di,,,Aku pasti akan kangen sama kamu.”Lanjut Risma dengan sudah sembam karena air mata membasahi pipinya.
Aku cumin terdiam dan tak menjawabnya.Bibir ini seakan sudah terkunci.Perkataan Risma membuatku semakin sedih dan tak rela untuk melepaskan mereka dan tempat ini.
“Braaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkkkkkk!!!
Ku banting pintu kamar sekeras keras mungkin.Aku masih begitu berat meninggalkan tempat penuh kenagan ini.Mataku sudah memerah karena terlalu banyak menangis bahkan kepalaku juga begitu berat.
Hari terus berganti.Sekarang tinggal 4 hari lagi akan meninggalkan tempat ini.Dan aku benar – benar belum bias meninggalkan dan mengikhlaskan untuk pergi.
“Nglamun aja!”Celetuk Rendi dari belakangku.
Sekarang aku berada di tempat favoritku,Bendungan Waruturi.
Aku mengajak temankuRebdi untuk melihat pemandangan alam disini.Setelah beberapa menit kemudian,Risma dating dan langsung bergabung dengan kami.
“Wah..wah..!!Kalian nggak ngajak – ngajak aku sich!”Celoteh Risma sambil tersenyum sewot.
SAku dan Rendi hanya bias tertawa terbahak – bahak melihat eksprsei Risma.Kami bertiga pun berfoto – foto seperti biasa.Namun foto- foto ini lebih terkesan untuk perpisahan terakhir.
“Kamu tabah cantik aja!”Ujar Rendi pada diriku.
Aku pun berfikir dalam hati.”Kenapa nich anak?Demam kali ya?”Tanyaku dalam hati.
Aku dan Risma hanya bias tertawa terbahak – bahak.
“Hahahaha….!Tumben muji Dina?Mimpi apa loe?”Tanya Risma yang sedang tertawa terbahak – bahak.
“Apa – apaan sih kamu,Ris?”Jawab Rendi dengan rasa malu.Aku hanya bias terdiam melihat tingkah mereka berdua.
Hari semakin sore,saatnya aku pulang.Karena aku tak membawa sepedah,akhirnya aku dan Rendi boncengan.

*****
Hari ini,adalah hari ku meninggalkan tempat ini.Tempat penuh kenagna.Semua sudah siap,ayah dan ibu sudah siap di mobil.
“Tinnnnn…tinnnn!!!”klakson mobil pun dinyalakan oleh ayah.
“Din,buruan !Kita harus berangkat!”Teriak ibu di dalam mobil.
“Kringg..”Tiba – tiba suara handphone ku bordering.Ternyata Rendi mengirimkan pesan.Dia mengajak ketemuan sebntar di Bendungan Waruturi.Akhirnya aku mengiyakan.
Aku meminta kedua orangtuaku untuk melaju ke daerah Bendungan Waruturi.
Sesampai di sana,aku m3elihat Rendi yang sedang menunggu .Aku pun turun dari mobil.Dan air mataku pun menetes.
“Din,kamu jangan pergi!Aku ingin kamu selalu ada di sini.”Ucap Rendi sambil menetskan air matanya.,
“Aku tak bisa ,maafkan aku.Aku akan memberimu kabar sesampai di sana.”Jawabku.Sambil meneteskan air mata yang sudah tak bias ku bendung.
Akhirnya aku pergi meninggalkan dia,meninggalkan tempat penuh kenangan.Walaupun kita berbeda tempat,namun kita tetap sahabat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar